Moringa oleifera

We are suppplier of Moringa oleifera from Indonesia.

Other Names:
Arango, Árbol de las Perlas, Behen, Ben Ailé, Ben Nut Tree, Ben Oléifère, Benzolive, Canéficier de l’Inde, Chinto Borrego, Clarifier Tree, Drumstick Tree, Horseradish Tree, Indian Horseradish, Jacinto, Kelor Tree, Malunggay, Marango, Mlonge, Moringa oleifera, Moringa pterygosperma, Moringe de Ceylan, Mulangay, Murungakai, Narango, Nebeday, Paraíso Blanco, Perla de la India, Pois Quénique, Sahjna, Saijan, Saijhan, Sajna, San Jacinto, Shagara al Rauwaq, Shigru, Terebinto.

Moringa oleifera is the most widely cultivated species of the genus Moringa, which is the only genus in the family Moringaceae. English common names include: moringa, drumstick tree (from the appearance of the long, slender, triangular seed-pods), horseradish tree (from the taste of the roots, which resembles horseradish), ben oil tree, or benzoil tree (from the oil which is derived from the seeds). It is a fast-growing, drought-resistant tree, native to the southern foothills of the Himalayas in northwestern India, and widely cultivated in tropical and subtropical areas where its young seed pods and leaves are used as vegetables. It can also be used for water purification and hand washing, and is sometimes used in herbal medicine.



Many parts of moringa are edible, with regional uses varying widely:

Immature seed pods, called "drumsticks"
Leaves
Mature seeds
Oil pressed from seeds
Flowers
Leaves
Nutritional content of 100 g of fresh M. oleifera leaves (about 5 cups) is shown in the table (right; USDA data), while other studies of nutrient values are available.



The leaves are the most nutritious part of the plant, being a significant source of B vitamins, vitamin C, provitamin A as beta-carotene, vitamin K, manganese, and protein, among other essential nutrients. When compared with common foods particularly high in certain nutrients per 100 g fresh weight, cooked moringa leaves are considerable sources of these same nutrients. Some of the calcium in moringa leaves is bound as crystals of calcium oxalate though at levels 1/25th to 1/45th of that found in spinach, which is a negligible amount.

The leaves are cooked and used like spinach and are commonly dried and crushed into a powder used in soups and sauces.

Drumsticks

Drumstick vegetable pods at a market
The immature seed pods, called "drumsticks", are commonly consumed in South Asia. They are prepared by parboiling, and cooked in a curry until soft. The seed pods/fruits, even when cooked by boiling, remain particularly high in vitamin C (which may be degraded variably by cooking) and are also a good source of dietary fiber, potassium, magnesium, and manganese.

Seeds
The seeds, sometimes removed from more mature pods and eaten like peas or roasted like nuts, contain high levels of vitamin C and moderate amounts of B vitamins and dietary minerals.

Seed oil
Mature seeds yield 38–40% edible oil called ben oil from its high concentration of behenic acid. The refined oil is clear and odorless, and resists rancidity. The seed cake remaining after oil extraction may be used as a fertilizer or as a flocculent to purify water. Moringa seed oil also has potential for use as a biofuel.

Roots
The roots are shredded and used as a condiment with sharp flavor qualities deriving from significant content of polyphenols.

Malnutrition relief
Moringa trees have been used to combat malnutrition, especially among infants and nursing mothers. Since moringa thrives in arid and semiarid environments, it may provide a versatile, nutritious food source throughout the year. Moringa leaves have been proposed as an iron-rich food source (31% Daily Value per 100 g consumed, table) to combat iron deficiency. However, further study is needed to test practical applications of using this dietary source and its iron bioavailability.

Moringa is a plant that is native to the sub-Himalayan areas of India, Pakistan, Bangladesh, and Afghanistan. It is also grown in the tropics. The leaves, bark, flowers, fruit, seeds, and root are used to make medicine.

Moringa is used for “tired blood” (anemia); arthritis and other joint pain (rheumatism); asthma; cancer; constipation; diabetes; diarrhea; epilepsy; stomach pain; stomach and intestinal ulcers; intestinal spasms; headache; heart problems; high blood pressure; kidney stones; fluid retention; thyroid disorders; and bacterial, fungal, viral, and parasitic infections.

Moringa is also used to reduce swelling, increase sex drive (as an aphrodisiac), prevent pregnancy, boost the immune system, and increase breast milk production. Some people use it as a nutritional supplement or tonic.

Moringa is sometimes applied directly to the skin as a germ-killer or drying agent (astringent). It is also used topically for treating pockets of infection (abscesses), athlete’s foot, dandruff, gum disease (gingivitis), snakebites, warts, and wounds.

Oil from moringa seeds is used in foods, perfume, and hair care products, and as a machine lubricant.

Moringa is an important food source in some parts of the world. Because it can be grown cheaply and easily, and the leaves retain lots of vitamins and minerals when dried, moringa is used in India and Africa in feeding programs to fight malnutrition. The immature green pods (drumsticks) are prepared similarly to green beans, while the seeds are removed from more mature pods and cooked like peas or roasted like nuts. The leaves are cooked and used like spinach, and they are also dried and powdered for use as a condiment.

The seed cake remaining after oil extraction is used as a fertilizer and also to purify well water and to remove salt from seawater.

How does it work?
Moringa contains proteins, vitamins, and minerals. As an antioxidant, it seems to help protect cells from damage.



Source : wikipedia

Resep Penambah Nafsu Makan Anak dengan Curcuma xanthorrhiza

Bahan: 30 gram rimpang temulawak segar dan 5 gram asam jawa.

Cara membuat: temulawak dikupas, iris tipis-tipis lalu campur dengan asam jawa dan rebus dengan air sebanyak 300 cc. Rebus dengan api sedang hingga air tersisa sekitar 200 cc. Setelah dingin, saring, dan tambahkan madu murni 3 sendok makan. Minum 2 kali sehari pagi dan sore.



Temu lawak (Curcuma xanthorrhiza) adalah tumbuhan obat yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae). Ia berasal dari Indonesia, khususnya Pulau Jawa, kemudian menyebar ke beberapa tempat di kawasan wilayah biogeografi Malesia. Saat ini, sebagian besar budidaya temu lawak berada di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina tanaman ini selain di Asia Tenggara dapat ditemui pula di China, Indochina, Barbados, India, Jepang, Korea, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa.


Nama daerah di Jawa yaitu temulawak, di Sunda disebut koneng gede, sedangkan di Madura disebut temu labak. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah sampai ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut dan berhabitat di hutan tropis. Rimpang temu lawak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada tanah yang gembur.

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza, Roxb) termasuk tanaman obat, yang di Jawa lebih dikenal dengan nama temulawak, di Sunda disebut koneng gede, sedangkan di Madura disebut temo labak. Nama Inggris untuk temulawak adalah Java turmeric alias kunyit Jawa. Temulawak seringkali disebut Curcuma, walaupun sebetulnya kurang tepat karena banyak spesies tanaman obat lain yang juga menggunakan nama Curcuma.

Temulawak masih satu jenis dengan  kunyit, temu hitam, dan temu giring , dan satu famili dengan lempuyang gajah, lempuyang wangi dan jahe (ginger).

Sejak jaman nenek moyang, temulawak dikenal sebagai jamu ampuh untuk melawan berbagai penyakit diantaranya sakit kuning (hepatitis), sakit maag dan sariawan, memperlancar ASI, obat sembelit, penyakit kulit (jerawat/eksim) dan obat penambah nafsu makan.

Bukan hanya di Indonesia, di Belanda temulawak banyak digunakan untuk pengobatan dan dalam farmasi. Kandungan temulawak terpenting adalah curcuminoid dan minyak atsiri (xanthorrhizol, germacon, dll). Kandungan minyak atsiri dalam temulawak sebanyak 3-12%, sedangkan kandungan curcuminoid sebanyak 1-2%. Curcuminoid terdiri atas senyawa berwarna kuning curcumin dan turunannya. Curcuminoid yang memberi warna pada rimpangnya memiliki potensi antibakteria, antitumor/ kanker, antiradang, antioksidan, hepatoprotektor dan hipokolesterolemik (menurunkan kadar kolesterol).



Obat penyakit hati
Penelitian ilmiah membuktikan bahwa rimpang temulawak banyak mengandung senyawa yang bermanfaat untuk organ hati, kandung empedu dan pankreas. Karena itu saat ini temulawak banyak digunakan untuk pengobatan penyakit hati  seperti hepatitis. Temulawak merangsang sel hati membuat zat empedu (koleritik), melindungi sel hati, dan menurunkan kadar SGOT dan SGPT. Pengaruhnya terhadap empedu adalah mencegah pembentukan batu empedu dan radang empedu (kolesistitis). Minyak atsiri yang terkandung dalam temulawak juga berkhasiat sebagai analgetik (penghilang rasa sakit) dan anti piretik (penurun demam).

Temulawak sebagai obat nafsu makan
Sejak lama nenek moyang kita menggunakan temulawak sebagai jamu untuk merangsang nafsu makan anak. Selain temulawak sebagai bahan tunggal atau dengan mencampur herbal lain seperti asam jawa, temu ireng dll. Saat ini di pasaran juga banyak beredar suplemen kesehatan dan vitamin  yang mengandung Curcuma dan mengklaim dapat menambah nafsu makan anak.
Penelitian membuktikan temulawak dapat membangkitkan nafsu makan. Curcuminoid, salah satu komponen utama curcuma, adalah senyawa yang berperan sebagai penambah nafsu makan. Cara kerjanya dengan memperlancar sekresi cairan empedu dan pankreas, sehingga aktivitas pencernaan meningkat. Selain itu minyak atsiri yang terkandung dalam Curcuma bekerja mempercepat pengosongan lambung, sehingga cepat menimbulkan rasa lapar.

Sumber : wikipedia & anakku

Kayu Secang atau Sappan Wood (Caesalpinia sappan)

Apakah Anda pernah minum wedang secang?
Wedang secang sendiri sudah menjadi minuman tradisional Indonesia yang banyak manfaatnya untuk kesehatan.

Dalam minuman ini mengandung kimia alami, yakni asam galat, tannin, resin, resorcin, brazilin, brasilliean, d-alfa-phellandrene, oscimene dan minyak atsiri.
Selain itu, serutan Kayu Secang juga dapat dibuat minuman seperti teh yang berkhasiat untuk menguatkan lambung dan mengobati diare dan disentri. Tak hanya itu saja, nyeri akibat gangguan sirkulasi darah juga dapat diobati dari minuman yang berasal dari serutan Kayu Secang.



Tanaman Secang punya nama ilmiah Caesalpinia sappan dan nama lokalnya macam-macam umumnya disebut secang, sedang di daerah sumatra seperti di Aceh disebut seupeueng dan di daerah Minangkabau disebut Lacang, sopang (Toba), sepang (Sasak), supa (Bima), sepel (Timor), hape (Sawu), hong (Alor), sepe (Roti), sema (Manado), dolo (Poso), sapang (Makasar), sepang (Bugis), sepen (Halmahera selatan), savala (Halmahera Utara), sungiang (Ternate), roro (Tidore), sappanwood (Inggris), dan suou (Jepang).


Manfaat Kayu Secang menurut wikipedia, yaitu :

Pewarna
Sebagaimana kayu brazil, kayu sepang terutama dimanfaatkan sebagai penghasil zat pewarna: makanan, pakaian, anyam-anyaman, dan barang-barang lain.Rumphius mencatat bahwa "Lignum Sappan" ini pada masa lalu ditanam orang hampir di semua pulau di Nusantara. Kayu ini menjadi komoditas perdagangan antar bangsa hingga penghujung abad ke-19; setelah itu nilainya terus menurun akibat persaingan dengan bahan pewarna sintetik, dan kini hanya menjadi barang perdagangan di dalam negeri

Bahan obat
Kayu secang memiliki khasiat sebagai pengelat (astringensia). Kandungan utamanya adalah brazilin, yakni zat warna merah-sappan, asam tanat, dan asam galat. Simplisia kayu secang berupa irisan atau keping-keping kecil kayu ini dikenal sebagai Sappan lignum dalam sediaan FMSo (Formularium Medicamentorum Soloensis).

Brazilin dari kayu secang teruji secara ilmiah bersifat antioksidan, antibakteri, anti-inflamasi, anti-photoaging, hypoglycemic (menurunkan kadar lemak), vasorelaxant (merelaksasi pembuluh darah), hepatoprotective (melindungi hati) dan anti-acne (anti jerawat). Ekstrak kayu secang juga ditengarai berkhasiat anti-tumor, anti-virus, immunostimulant dan lain-lain.

Secara tradisional, potongan-potongan kayu secang biasa digunakan sebagai campuran bahan jamu di Jawa. Di samping itu, kayu secang adalah salah satu bahan pembuatan minuman penyegar khas Yogyakarta selatan (wedang secang dan wedang uwuh).

Lain-lain
Karena kekuatan, keawetan, dan keindahan warnanya, kayu secang juga dimanfaatkan dalam pembuatan perkakas rumah tangga. Hanya, karena tidak ada eksemplar kayu yang berukuran cukup besar dan panjang, kayu ini melulu digunakan untuk pembuatan perkakas kecil-kecil, kayu lis dan pigura, pasak dan paku kayu dalam pembuatan perahu, dan lain-lain.

Perdu secang yang banyak berduri biasa digunakan sebagai tanaman pagar di lahan-lahan hutan jati di Jawa.



Asraza Indoherbal Jaya provide and supplies sappanwood, herbal raw, in  dry, powder or extract form. 
Our warehouse location at Bandung-Indonesia.
We can also Export.

Tlp: +62812-912-77-100 ( whatsapp)
Pin BB: 5B829809
Email: sugie801@yahoo.com ( for faster response )

Pesan Anda